jatropha1

SENYAWA METABOLIT SEKUNDER DARI SPESIES JATROPHA

Senyawa metabolit sekunder dari beberapa spesies Jatropha telah berhasil diisolasi dan diidentifikasi strukturnya. Aktivitas biologis beberapa senyawa telah dikaji dan divalidasi sehingga membuat spesies Jatropha saat ini menjadi sangat menarik bagi para peneliti dan masyarakat.

Jatropha curcas

Jarak pagar (J. curcas L., Euphorbiaceae) merupakan tumbuhan semak berkayu yang banyak ditemukan di daerah tropik. Tumbuhan ini dikenal sangat tahan kekeringan dan mudah diperbanyak dengan stek. Walaupun telah lama dikenal sebagai bahan pengobatan dan racun, saat ini ia makin mendapat perhatian sebagai sumber bahan bakar hayati untuk mesin diesel karena kandungan minyak bijinya [1]. Tanaman jarak pagar memiliki batang berkayu, silindris, bercabang, berkulit licin, memiliki tonjolan-tonjolan bekas tangkai daun yang gugur. Bila dipatah-patahkan atau terluka, batangnya akan mengeluarkan getah putih, kental dan agak keruh. Daunnya daun tunggal, tersebar di sepanjang batangnya. Bunga majemuk bentuk malai, berwarna kuning kehijauan, berkelamin tunggal, berumah satu. Baik bunga jantan maupun betina tersusun dalam rangkaian berbentuk cawan, muncul di ujung batang atau di ketiak daun [2]. J. curcas dibudidayakan sebagai tanaman obat di negara-negara tropis dan subtropis. Tanaman ini cocok untuk mencegah erosi tanah dan pergeseran bukit berpasir. Berbagai bagian tanaman berguna sebagai sumber minyak, makanan hewan dan pembuatan bahan obatan. Akhir-akhir ini, biji J. curcas diteliti sebagai potensi sumber minyak yang diakui sebagai pengganti bahan bakar motor [3].

Ekstrak etil asetat daun J. curcas mengandung kompleks 5-hidroksipirolidin-2-on dan pirimidin-2,4-dion (urasil) [4]. Biji J. curcas kaya akan protein kasar, CP (31-34.5%) dan lipid (55-58%). Kandungan pati dan gula terlarut total dibawah 6%. Minyaknya mengandung asam lemak yaitu asam oleat (41.5-48.8%), asam linoleat (34.6-44.4%), asam palmitat (10.5-13.0%), asam stearat (2.3-2.8%), asam cis-11-eicosenoat dan asam cis-11,14-eicosadienoat [5]. Minyak biji J. curcas mengandung senyawa phorbol ester yaitu 12-deoksi-16-hidroksiphorbol (1) yang memiliki aktivitas sebagai antitumor [6]. Diterpen 12-deoksi-16-hidroksiphorbol dalam enam ester diterpen yang berbeda dari minyak J. curcas menggunakan metode HPLC yang diberi nama Jatropha factor C1 sampai C-6 (2-7) telah diisolasi [7].

Isolasi lateksnya menghasilkan senyawa oktapeptida siklik yaitu curcacycline A (8) yang menunjukkan adanya inhibisi terhadap jalur aktivitas metabolit sekunder pada manusia dan perkembangbiakan (proliferation) sel-sel T pada manusia [8], curcacycline B (9) [9], jatrophidin I (10) [10] yang memiliki sifat antifungi dan pohlianin A (78) [11] yang memiliki aktivitas antifungi dan antimalaria [10].

Senyawa-senyawa diterpen seperti tigliane (11), jatrofon (12) dan dinorditerpene (13), triterpenoid asam 3-O-asetilaleuritolat (14) telah teridentifikasi dari tanaman ini [12]. Akar J. curcas merupakan sumber banyak senyawa diterpen dengan kerangka daphnane dan lathyrane [13]. Senyawa diterpen yang berasal dari ekstrak heksan tanaman ini adalah jatrofolon A (15) dan B (16) [14], curculathyrane A (17), dan B (18) serta curcusone A-D (19-22) [13].

Sementara itu, fraksi polar ekstrak kasar akar J. curcas mengandung propasin (23), (+)-Jatrofol (24), (+)-marmesin (25) dan jatrofin (26) [13]. Dua senyawa tipe lathyrane yaitu senyawa 15-O-asetil-15-epi-(4E)-jatrogrossidentadion (27) dan isojatrogrossidentadion (28) dan dua senyawa podacarpane yaitu 3β-asetoksi-12-metoksi-13-metil-podokarpa-8,11,13-triena-7-on (29) dan 3β,12-hidroksi-13-metil-podokarpan-8,10,13-triena (30) [15].

Senyawa 5α-stigmastane-3,6-dione (31), β-sitosterol (32), estigmasterol (33),  taraxasterol (34), daucasterol (35), nobiletin (36), 5-hidroksi-6,7-dimetoksikumarin (37), 6-metoksi-7-hidroksikumarin (38), 3-hidroksi-4-metoksibenzaldehida (39), asam 3-metoksi-4-hidroksibenzoat (40) asam gliserida-1 2S-tetracosanoat (41) dan caniojane (42) merupakan senyawa yang diisolasi dari akar J. curcas [14].

Ekstrak daun J. curcas memiliki aktivitas antihelmintes yang diuji terhadap cacing tanah dewasa asal Indian, Pheretima posthuma. [16], Ekstrak methanol tanaman ini memiliki aktivitas antiulcer (anti isul, borok) terhadap tikus Wistar [17]. Sementara itu, ekstrak kasar etanol, metanol dan air dari kulit batang J. curcas memiliki aktivitas antimikroba in vitro terhadap Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, Escherichia coli, Streptococcus faecalis, Staphylococcus epidermidis, Shigella dysentriae, Micrococcus kristinae, Klebsiella pneumonia, Bacillus cereus, Bacillus subtilis, Proteus vulgaris dan Serratia marcescens [18]. Toksiksitas Minyak biji J. curcas telah diujikan terhadap insekta Callosobruchus maculatus dan parasitnya, Dinarmus basalis [19].

Penelitian tentang toksiksitas nikel yang diberikan kepada tanaman J.curcas menunjukkan adanya korelasi antara respon enzim antioksidan dan aktivitas PAL dengan konsentrasi nikel dalam kotiledon J. curcas. Konsentrasi nikel yang lebih rendah dan aktivitas superoxide dismutase (SOD), peroxidase (POD), catalase (CAT) dan phenylalanine ammonia lyase (PAL) yang tinggi menunjukkan kapasitas toleransi untuk melindungi tanaman ini dari kerusakan oksidatif [20].

Jatropha chevalieri

Isolasi senyawa yang terkandung dalam lateks J. chevalieri menghasilkan chevalierin A (43), B (44) dan C (45) yang merupakan peptida siklik. Senyawa 43 menunjukkan aktivitas antimalaria dengan IC50 8.9 μM [21].

Jatropha elliptica

J. elliptica Muell. Arg. merupakan perdu tahunan yang tersebar di daerah utara dan barat Brazil dan dilaporkan memiliki beberapa kegunaan dalam obat-obatan [22,23,24]. J. elliptica digunakan oleh masyarakat untuk mengobati penyakit neoplasia, inflamasi, lambung dan beberapa diantaranya penyakit diuretika [24]. Ekstrak etanol akar tanaman ini menunjukkan aktivitas moluskasidal [12].

Senyawa 4-etil-2,6-dimetil-3,5-piridinekarboksilat (46) telah diujikan secara in vitro untuk aktivitas antibakteri dan resistansi terhadap strain Staphylococcus aureus yang memiliki mekanisme aliran resistansi MsrA dan NorA. Kajian antibiotik mengindikasikan bahwa senyawa ini bertindak sebagai penghalang (inhibitor) aliran pompa NorA dan memulihkan tingkat konsentrasi obat intraselular [12]. Senyawa yang diisolasi dari rhizoma J. elliptica ini memiliki struktur kristal monoklinik ( P121/n1 (no.14), a = 11.204 (5) Å, b = 8.368 (5) Å, c = 18.817 (5) Å, β = 99.366 (5)°, V = 1740.7 Å3, Z = 4, Rgt (F) = 0.054, wRref (F2) = 0.154, T = 293 K) [25]. Isolasi senyawa dari akar J. elliptica menghasilkan diterpen yaitu senyawa 12, 15 dan 16, 14, 23, ester ferulat yaitu pentatriacontanil ferulat (47), kumarin yaitu fraxetin (48) dan campuran steroid yaitu senyawa 32 dan 33 [26].

Senyawa 12 dari J. elliptica menghalangi pengikatan [3H]glutamat. Hasil ini mengindikasikan suatu kemungkinan parameter neurokimia yang berkaitan dengan aktivitas antinoseptif dari senyawa ini [27]. Senyawa ini juga telah diuji aktivitas biologisnya meliputi efek moluskasidal [24], reaksi biologis tiol (inhibisi aktivitas tumor) [28], interaksi dengan sRNA Escherichia coli [29], inhibisi pelepasan insulin [30], efek relaksasi dari kontraksi uterin terinduksi [31], relaksan pada pembuluh portal tikus [32], inhibisi aktivasi limfosit, kemungkinan melalui inhibisi protein kinase jalur C [33], aktivitas antiprotozoa [34], aktivitas antileismanial [35], aktivitas antileukemia terhadap limpotik leukemia P-388 pada sitotoksisitas (ED50­) 27 dan 12 mg/kg terhadap kultur sel KB pada 0,17 µg/mL [36].

Jatropha gaumeri

Isolasi senyawa metabolit sekunder dari ekstrak akar J. gaumeri menghasilkan senyawa diterpene dengan kerangka rhamnofolan, 2-epi-jatrogrossidion (49) dan diterpen lathyran, 15-epi-4E-jatrogrossidentadion (50). Senyawa 49 memiliki aktivitas antimikroba dan senyawa 50 tidak menunjukkan aktivitas biologis. Ekstrak kasar daun J. gaumeri mengandung 32, 34, triterpene α-amyrin (51), dan β-amyrin (52) yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan [37].

Jatropha gossypifolia

Jatropha gossypifolia (sinonim : Adenoropium gossypifolia Pohl, Jatropha elegans) termasuk dalam famili Euphorbiaceae [38] adalah tanaman semak, tumbuh berumpun, tingginya mencapai 1,8 meter, daunnya berlekuk 3-5 dengan panjang dan lebar 20 cm, daun memiliki petiola yang panjang, ditutupi oleh rambut [39].

J. gossypifolia tumbuh alami di hampir seluruh daerah tropis di dunia [40]. Tanaman ini adalah tanaman asli Brazil, tumbuh alami di beberapa daerah di India. J. gossypifolia tumbuh hampir di semua jenis tanah, lahan pembuangan limbah, sisi-sisi jalan, di daerah aliran sungai dan jarang ditanam di lahan pertanian [41]. Pendapat lain menyatakan bahwa J. gossypifolia adalah tanaman asli Carribean dan Amerika beriklim tropis tetapi sekarang telah tersebar di seluruh wilayah tropis [42]. Tanaman ini telah diklasifikasikan sebagai suatu perdu (semak) di India, Brazil, Jamaika dan Trinidad. Di India, bunga J. gossypifolia mekar mulai bulan Februari hingga Juli. Kadang-kadang, beberapa bunga dan buahnya akan muncul pada waktu yang sama. Ketika musim semi, katup kapsul akan terbuka dan nampak biji-biji yang berukuran kecil [41].

Tanaman ini dilaporkan dapat mengobati diskrasia, anemia, pusing dan disphonia [38]. Tanaman ini adalah antibiotik, insektisidal, dan digunakan untuk sakit gigi dan sebagai pembersih darah [43]. Daun J. gossypifolia dipakai untuk mengobati bisul, eksim dan gatal-gatal, demam, dan bertindak sebagai pencahar serta bengkak. Jamu-jamuan dari daun tanaman ini berguna untuk mengobati sakit perut, penyakit kelamin dan sebagai pembersih darah [44]. J. gossypifolia daunnya digunakan untuk jamu-jamuan yang direbus atau dididihkan seperti bayam, sebagai obat pencahar untuk ‘belly-ache kering’. Tanaman ini dijadikan sebagai teh untuk mengobati sembelit, bagian yang digunakan ini tidak dispesifikasikan, tetapi kemungkinan adalah bagian daunnya seperti yang dipakai pada pengobatan jaman dulu [45]. Daun J. gossypifolia digunakan untuk mengobati gejala demam, bisul, eksim, gatal-gatal, sakit pada gusi anak-anak, bengkak, sakit perut dan penyakit kelamin [43]. Biji J. gossypifolia digunakan untuk pencahar, minyaknya serupa dengan minyak kastrol (jarak) [45]. Namun, penggunaan biji J. gossypifolia dalam obat herbal tidak disarankan karena memiliki toksiksitas yang tinggi [46]. Minyak dari biji J. gossypifolia digunakan sebagai emesis, pencahar dan stimulan, selain itu juga diterapkan untuk bisul (borok) dan lepra serta cacingan [44]. Sementara itu, akar J. gossypifolia dianjurkan untuk lepra dan mengobati bisa gigitan ular [38].

Bagian dari J. gossypifolia yang lain digunakan di beberapa negara dengan banyak cara. Di beberapa negara seperti India, J. gossypifolia digunakan untuk mengobati diare [47] dan akarnya mengobati disentri [48]. Air rebusan J. gossypifolia di Trinidad dimanfaatkan untuk mengobati luka dan mengurangi rasa nyeri. Penggunaan ini serupa dengan penggunaan secara etnoveterinari (pada hewan) yaitu mengobati gigitan ular, sengatan kalajengking, luka dan kudis pada anjing pemburu mereka [49]. J. gossypifolia di Trinidad dan Tobago secara etnomedisin digunakan untuk mengobati luka sabetan, luka dan bengkak [50].  Di Ghana, J. gossypifolia dimanfaatkan secara etnobotani untuk mengobati malaria dengan cara merebus daun tanaman ini dengan daun Combretum ghaselensis dan keseluruhan bagian tanaman Ocimun canum, kemudian air rebusannya diminum [51]. Air rebusan daun J. gossypifolia digunakan untuk luka, keseleo, ruam pada wajah dan kecantikan di Amerika dan Caribbean. Di Ekiti, Nigeria, J. gossypifolia ditanam sebagai pagar pembatas tanah dan kontrol erosi serta digunakan untuk menyembuhkan kanker mulut [52]. Sementara itu, di Nigeria bagian selatan, lateks batang J. gossypifolia secara rutin digunakan oleh para ahli obat herbal, penduduk pedesaan dan beberapa masyarakat di pusat-pusat kota untuk menghentikan pendarahan dari hidung (mimisan), sakit gusi dan kulit tanpa memperhatikan keamanan penggunaannya. Sebelum menghentikan darah, lateks dapat masuk ke dalam sistem tubuh dan menyebabkan reaksi yang berlawanan jika memiliki sifat tersebut [53,54]. Di Suriname, buah J. gossypifolia dijadikan sebagai obat pencahar [55].

Metabolit sekunder yang telah diisolasi dan diidentifikasi dari jaringan J. gossypifolia adalah:

Keseluruhan

Senyawa diterpenoid yaitu citlalitrione (53) [56] dan jatrofenon (54) [57] diisolasi dari keseluruhan tanaman J. gossypifolia. Jatrofenon memiliki aktivitas antimikroba terhadap Staphylococcus aureus dengan aktivitas yang sebanding dengan penicillin G [57]. Senyawa kumarin-lignoid juga diperoleh secara keseluruhan yaitu propasin (23) [58].

Daun

Komposisi kimia ekstrak lipid dari daun J. gossypifolia (Tabel 1) telah diidentifikasi menggunakan GC-MS [59].

Tabel 1. Komposisi kimia ekstrak lipid dari daun J. gossypifolia.

Nama Senyawa Komposisi Kelimpahan Relatif (%)
Asam propanoat C3H6O2 0.9
Gliserol C3H8O3 12.0
Asam 2-pentenoat C3H8O 13.7
Arabitol C5H12O5 12.3
3,7,11,15-tetrametil-2-heksadeken-1-ol C20H40 2.0
D-Xylofuranosa C5H10O5 n.d
D-mannitol C6H14O 0.7
Asam heksadekanoat C16H32O2 7.8
Inositol C6H12O6 n.d
Asam oleat C18H34O2 6.3
Asam oktadekanoat C18H36O2 2.7
Oktakosan C28H58 n.d
Oktakosanol C28H58O 2.3
Stigmasterol C29H48O 2.5
α-Sitosterol C29H50O 8.8
α-Amyrin C30H50O n.d
Lup-20(29)-en-3-on C30H48O n.d
Betulin C30H50O2 n.d

Biji

Minyak dari biji J. gossypifolia mengandung senyawa phorbol ester, 1 yang memiliki aktivitas sebagai antitumor [6].

Batang

Lignan yaitu gossypidien (55) [60] dan gossypifan (56) [61] telah diisolasi dari batang J. gossypifolia. Senyawa kumarin-lignoid, cleomiscosin (57) diisolasi dengan sokletasi menggunakan heksan dan etilasetat [62]. Selanjutnya, dua senyawa lignin yaitu isogadain [(+)-savinin atau hibalakton] (58) [63] dan diester jatrodien (59) [64]. Lateks dari batang mengandung oktapeptida siklogossin B (61) [65]. Siklogossin A dan B memiliki aktivitas sebagai antimalaria [10].

Akar

Akar J. gossypifolia mengandung senyawa diterpenoid yaitu senyawa 12 [66], 15 dan 16 [26]. Biotransformasi senyawa 12 oleh Aspergillus niger ATCC 16404 yang menghasilkan diterpene 9β-hidroksiisabellione (62) [67].

Jatropha grossidentata

J.  grossidentata Pax et Hoffm. adalah perdu yang dikenal ‘Caniroja’ oleh masyarakat Indian Ayoreo yang tinggal  di daerah utara pusat Paraguay Chaco. Serbuk akarnya dijadikan rokok oleh para dukun [68].

Ekstrak petroleum eter dan etil asetat dari akar J. grossidentata menunjukkan aktivitas in vitro terhadap Trypanosoma cruzi dan strain Leishmania pada konsentrasi 10µg/mL. Beberapa  diterpen telah diisolasi dari akarnya, yang mana senyawa utama merujuk pada rhamnofolan jatrogrossidion (49) [69,70]. Jatrogrossidion menunjukkan aktivitas in vitro leishmanisidal dan trypanosidal yang kuat dengan IC100 masing-masing 0.75 dan 1.5-5.0 µg/mL [34].

Jatropha integerrima

J. integerrima Jacq. (sinonim J. pandurifolia Andr.) adalah tanaman pohon perdu yang memiliki kegunaan sebagai obat-obatan yang belum banyak dilaporkan. Lateksnya diketahui beracun. Daunnya jika dikunyah dapat menyebabkan rasa sakit, nyeri perut, dan sangat memuleskan perut [71].

Isolasi senyawa dari ekstrak CH2Cl2 lateks J. integerrima menghasilkan senyawa heptapeptida siklik yaitu integerrimida A (63) dan B (64). Kedua peptida ini menghambat derajat proliferasi sel ICP-298 melanoma manusia pada 50 μM, migrasi sel kanker pankreas Capan II manusia, namun tidak aktif dalam HSV-1, antifungi dan antimalaria [71].

Akar J. integerrima mengandung senyawa diterpen rhamnofolan endoperoksida (65) dan integerrimene (66) yang memiliki kerangka 8,9-seco-rhamnofolan [72].

Jatropha multifda

Lateks J. multifida mengandung senyawa glukosida non-sianogenik nitril, 1-siano-3-β-D-glukopiranosiloksi-(Z)-1-metil-1-propena yaitu multifidin A (67) [73]. Sebelumnya telah diisolasi multifidol (68) dan glukosidanya (69) [74], dua peptida siklik yaitu dekapeptida siklik, labaditin (70) [75] dan nonapeptida siklik, biobollein (71) [76].

Jatropha podagrica

J. podagrica mengandung alkaloid tetrametilpirazin (TMPZ) [77] yang menyebabkan vasodilasi [78] dan mengurangi trombosit [79]. Akar J. podagrica mengandung senyawa asam alifatik, asam japodat (72) dengan cincin siklopropana geminal-dimetil [80]. Asam ini menunjukkan aktivitas inhibisi terhadap insekta Helicoverpa zea subtilis dan tidak aktif sebagai antibakteri. Ekstrak kloroform dan metanol akar tanaman ini mengandung fraxidin (73) dan erithrinasinat (74) yang aktif menghambat pertumbuhan Bacillus subtilis [80]. Lateks dari batang J. podagrica mengandung senyawa nonapeptida siklik, podasiklin A (75) dan heptapeptida siklik, podasiklin B (76) [81].

Podasiklin B memiliki aktivitas sitotoksik yanng tinggi terhadap sel Dalton’s lymphoma ascites (DLA) dan Ehrlich’s ascites carcinoma (EAC)  dengan harga IC50 13.2 dan 15.5 µM. Aktivitas antihelmintes yang sedang terhadap cacing tanah Megascoplex konkanensis, Pontoscotex corethruses dan Eudrilus sp. pada dosis konsentrasi 2 mg/mL (standar mebendazole dan piperazine sitrat). Senyawa ini tidak memiliki aktivitas antifungal patogen Candida albicans, Aspergillus niger, Microsporum audouinii dan Trichophyton mentagrophytes [82].

Jatropha pohliana

Jatropha pohliana Müll. Arg. (sinonim: Adenophorum molissimum Pohl, Adenophorum luxurians Pohl, Jatropha molissimma (Pohl) Baill., Jatropha pohliana var. mollissima (Pohl) Müll. Arg., Jatropha luxurians (Pohl) Baill.) dikenal dengan nama Pinhão-bravo dan pinhão-de-purga [83].

Isolasi lateks J. pohliana menghasilkan senyawa peptida siklik yaitu pohlianin A (77), B (78), dan C (79) yang masing-masing aktivitas antimalaria dengan IC50 secara berturut-turut adalah 57 μM, 25 μM dan 16 μM, senyawa 79 adalah yang paling berpotensi sebagai antimalaria [11].

Jatropha tanjorensis

J. tanjorensis memiliki batang yang gemuk dan tebal dengan sedikit percabangan dan pigmentasi yang kurang. Pergantian daun cepat, daun tumbuh menjari dengan lima lekukan, berwarna hijau hingga hijau tua tanpa pigmentasi, kecuali pada daun yang sangat muda. Pinggiran daun berserat dengan jarak berjauhan dan petiolanya panjang dengan pigmentasi yang tebal. Bunga-bunganya tersusun berkelompok uniseksual dan biseksual, berukuran sedang warna hijau dengan sedikit warna pink muda, terdapat delapan stamen berwarna kuning yang tersusun dalam lapisan permukaan tunggal dengan serbuk sari yang mandul. Tanaman ini tidak memiliki buah [84].

J. tanjorensis terkenal sebagai obat alami untuk infeksi malaria dan hipertensi di beberapa daerah di Nigeria, akan tetapi ada beberapa kekurangan validasi ilmiah terhadap penyataan ini [85]. Masyarakat Edo di Nigeria menggunakan tanaman ini sebagai sayur dan dikenal sebagai catholic vegetable [86]. Penapisan fitokimia daun J. tanjorensis menunjukkan kandungan senyawa bioaktif seperti alkaloid, flavonoid, tannin, glikosida kardiak, antrakuinon dan saponin [87].

Jatropha unicostata

Komposisi relatif daun J. unicostata meliputi senyawa fitosterol yaitu sterol (0.9%), campesterol (4.9%), stigmasterol (36.5%), sitosterol (56.4%), stigmastanol (1.3%), senyawa 3-oxo-steroids yaitu campest-4-en-3-on (6.6%), stigmast-4,22-diena-3-on (19.8%), stigmast-4-en-3-on (73.8%), senyawa dioksosteroid yaitu campest-4-en-3,6-dion (5.6%), stigmast-4,22-diena-3,6-dion (42.2%), dan stigmast-4-en-3,6-dion (52.2%). Senyawa-senyawa ketosteroid kemungkinan berasal dari lateks tanaman ini. Fraxetin (7,8-dihidroksi-6-metoksi-kumarin) dan luteolin (3’,4’, 5,7-tetrahidroksiflavon) adalah penyusun utama fraksi etil asetat J. unicostata [1].

Jatropha weddelliana

J. weddelliana adalah tanaman perdu yang tumbuh pada tanah kering dan berkapur pada dataran tinggi yang membentuk “pantanal” pada Mato Grosso do Sul, Brazil [88]. Ekstrak heksan akar J. weddelliana mengandung 14 dan 32 dan ekstrak batang tanaman ini mengandung senyawa diterpen dengan kerangka lathyran yaitu jatrowedione (80) [89].

REFERENSI

  1. K. Franke, A.K. Nasher , dan J. Schmidt, Biochemical Systematics and Ecology, 2004, 32, 219-220.
  2. Supriadi, Penyakit Layu Bakteri pada Tumbuhan Obat dan Strategi Penanggulangannya, Pustaka Bogor, Bogor, 2000.
  3. K. Openshaw, Biomass Bioenergy, 2000, 19, 1-15.
  4. R. Staubmann, M. Schubert-Zsilavecz, A. Hiermann dan T. Kartnig, Phytochemistry, 1999, 50, 337-338.
  5. J. Martínez-Herrera, P. Siddhuraju, G. Francis, G. Dávila-Ortíz dan K. Becker, Food Chemistry, 2006, 96, 80-89.
  6. M. Hirota, M. Suttajit, H. Suguri, Y. Endo, K. Shudo, V. Wongchai, E. Hecker dan H. Fujiki, Cancer Research, 1988, 48, 5800-5804.
  7. W. Haas, H. Sterk dan M. Mittelbach, J. Nat. Prod., 2002, 65, 1334-1440.
  8. A.J.J. van den Berg, S.F.A.J. Horsten, J.J. Kettenes-van den Bosch, B.H. Kroes, C.J. Beukelman, B.R. Leeflang dan R.P. Labadie, FEBS Lett., 1995, 358, 215.
  9. C. Auvin-Guette, C. Baraguey, A. Blond, F. Lezenven, J.L. Pousset dan B. Bodo, Tetrahedron Lett. 1997, 38, 2845.
  10. W.F. Altei, M.S. Saito, D.G. Picchi, E.M. Cilli, P. Pauletti, D.H.S. Silva, I. Castro-Gamboa, M.J. Giannini, H. Verli dan V.S. Bolzani, 1st Brazilian Conference on Natural Products, Brazil, 2007.
  11. C. Auvin-Guette, C. Baraguey, A. Blond, H.S. Xavier, J.L. Pousset, dan B. Bodo, Tetrahedron, 1999, 55, 11495-11510.
  12. Marquez, L. Neuville, N. Moreau, J.P. Genet, A.F. dos Santos, M.C.C. de Andrade dan A.E.G. Sant’Ana, Phytochemistry, 2005, 66, 1804-1811.
  13. W. Naengchomnong, B. Tarnchompoo, dan Y. Thebtaranonth, J. Sci. Soc. Thailand, 1994, 20, 73-83.
  14. K. Ling-yi, M. Zhi-da, S. Jian-xia dan F. Rui, Acta Botanica Sinica, 1996, 38(2), 161-166.
  15. N. Ravindranath, M.R. Reddy, C. Ramesh, R. Ramu, A. Prabhakar, B. Jagadeesh dan B. Das, Chem. Pharm. Bull., 2004, 52(2), 608-611.
  16. R.A. Ahirrao, S.P. Pawar, L.B. Borse, S.L. Borse, S.G. Desai dan A.K. Muthu, Pharmacologyonline, 2009, 1, 276-279.
  17. N. Kannappan, S. Jaikumar, R. Manavalan dan A.K. Muthu, Pharmacologyonline, 2008, 1,279-293.
  18. O.O. Igbinosa, E.O. Igbinosa dan O.A. Aiyegoro, Afr. J. Pharm. & Pharmacol., 2009, 3(2), 058-062.
  19. B.A. Boateng dan F. Kusi, J. Applied Sci. Res., 2008, 4(8), 945-951.
  20. R. Yan, S. Gao, W. Yang, M. Cao, S. Wang dan F. Chen, Plant Soil Environ., 2008, 54(7), 294-300.
  21. C. Baraguey, C. Auvin-Guette, A. Blond, F. Cavelier, F. Levenzen, J.L. Pousset dan B. Bodo, J. Chem. Soc., Perkin Trans, 1998, 1, 3033-3039.
  22. M.P. Correa dan L.A. Penna, Dicionario das Plantas Uteis do Brasil e das Exoticas Cultivadas, Vol. III. Ministerio da Agricultura, Instituto Brasileiro de Desenvolvimento Florestal, RJ Brasil, 1984.
  23. J.A. Duke, Handbook of Medicinal Herbs, CRC Press, Florida, USA, 1985.
  24. A.F. dos Santos dan A.E.G. Sant’Ana, Phytother. Res., 1999, 13, 660-664.
  25. A.F. Silva, C.A. Simone, A.E.G. Sant’Ana, M.A. Pereira dan V.R.S. Malta, Z. Kristallogr. NCS, 2005, 220, 611-612.
  26. M.O.F. Goulart, A.E.G. Sant’Ana, R.A. de Lima dan S.H. Cavalcante, Química Nova, 1993, 16(2), 95-100.
  27. L.H. Martini, C.R. Souza, P.B. Marques, J.B. Calixto, R.A. Yunes dan D.O. Souza, Neurochemical Research, 2000, 25(2), 211-215.
  28. J.R. Lillehaug, K. Kleppe, C.W. Sigel, S.M. Kupchan, Biochim. Biophys. Acta, 1973, 327, 92-100.
  29. M. D’Alagni, M. De Petris, G.B. Marini-Bettolo, P.A. Temussi, FEBS Lett., 1983, 164, 51-56.
  30. F.V. Menezes, E.M. Carneiro, E. Delattre, A.C. Boschero, Braz. J. Med. Biol. Res., 1992, 25, 305-307.
  31. J.B. Calixto, A.E. Sant’Ana, Gen. Pharmacol., 1990, 21, 117-122.
  32. A.M. Silva, R.L. Brum, J.B. Calixto, Life Sci., 1995, 57, 863-871.
  33. V.L. Goncalves de Moraes, V.M. Rumjanek, J.B. Calixto, Eur. J. Pharmacol., 1996, 312, 333-339.
  34. G. Schmeda-Hirschmann, I. Razmilic, M. Sauvain, C. Moretti, V. Munoz, E. Ruiz, E. Balanza, A. Fournet, Phytother. Res., 1996, 10, 375-378.
  35. M.J. Chan-Bacab dan L.M. Peña-Rodríguez, Nat. Prod. Rep., 2001, 18, 674-688.
  36. G. Goel, H.P.S. Makkar, G. Francis dan K. Becker, International Journal of Toxicology, 2007, 26, 279-288.
  37. R. Can-Aké, G. Erosa-Rejón, F. May-Pat dan L.M. Peña-Rodríguez, Quím. Méx., 2004, 48, 11-14.
  38. K.R. Kirtikar dan B.D. Basu, Indian Medicinal Plants, Vol. III, 1980.
  39. A.O. Ogundare, Trends In Applied Sciences Research, 2007, 2(2), 145-150.
  40. H.M. Burkill, The Useful Plants of West Tropical Africa, Vol. 2, Royal Botanic Gardens, Kew, UK, 1994.
  41. A. Kakade, M. Pawar, K. Wadkar, S. Patil, C.S. Magdum dan N.S. Naikwade, Pharmacognosy Reviews, 2008, 2(4), 2-6.
  42. S. Csurches dan R. Edwards, Potential Environmental Weeds In Australia, The Director of The National Parks and Wildlife, Canberra, 1998.
  43. W. Balee, Footprints of Forest, Ka’apor Ethnobotany-The Historical Ecology of Plant Utilization by An Amazonian People, Columbia University Press, New York, 1994.
  44. J. Banerji, B. Das, P. Bose, R. Chakabarti, dan A. Chaterjee, Traditional Medicine, Oxford and IBH Publishing Co. Pvt, Ltd, New Dehli, 1993.
  45. G.F. Asprey dan P. Thornton, West Indian Medicinal Journal, 2005, 2(3), 3(1).
  46. H.A. Lioglier, Plantas Medicinales de Puerto Rico y del Caribe, Iberoamericana de Ediciones, Inc., San Juan, PR, 1990.
  47. S.K. Dash dan S. Padhy, J. Hum. Ecol., 2006, 20(1), 59-64.
  48. R. Dabur, A. Gupta, T.K. Mandal, D.D. Singh, V. Bajpai, A.M. Gurav dan G.S. Lavekar, Afr. J. Trad., 2007, 4(3), 313-318.
  49. C. Lans, T. Harper, K. Georges dan E. Bridgewater, BMC Complementary and Alternative Medicine, 2001, 1, 10.
  50. C. Lans, J. Ethnobiology and Ethnomedicine, 2007, 3(3), 1-12.
  51. A. Asase, J. Ethnopharmacology, 2005, 99, 273-279.
  52. J. Kayode dan M.A. Omotoyinbo, Research Journal of Botany, 2008, 3(3), 107-115.
  53. T. Oduola, O.G. Adeosun, T.A. Oduola, O.G. Avwiroro dan M.A. Oyeniyi, Euro. J. Gen. Med., 2005, 2(4), 140-143.
  54. T. Oduola, O.G. Avwiroro dan T.B. Ayanniyi, Afr. J. Biotech., 2005, 4(7), 679-681.
  55. T.V. Andel, J. Behari-Ramdas, R. Havinga dan S. Groenendijk, Ethnobotany Research & Applications, 2007, 5, 351-372.
  56. B. Das dan B. Venkataiah, Biochemical Systematics and Ecology, 1999, 27, 759-760.
  57. B. Das, N. Ravindranath, B. Venkataiah, C. Ramesh and P. Jayaprakash, Chem. Pharm. Bull., 2003, 51(7), 870-871.
  58. B. Das dan B. Venkataiah, Biochemical Systematics and Ecology, 2001, 29, 213-214.
  59. O.O. Sonibare, M.A. Sonibare dan E. Akharame, European Journal of Scientific Research, 2008, 21(1), 209-211.
  60. B. Das dan G. Anjani, Phytochemistry, 1999, 51, 115-117.
  61. B. Das dan R. Das, Phytochemistry, 1995, 40(10), 931-932.
  62. B. Das, A. Kashinatham, B. Venkataiah, K.V.N.S. Srivinas, G. Mahender dan M.R. Reddy,  Biochemical Systematics and Ecology, 2003, 31, 1189-1191.
  63. B. Das, S.P. Rao dan K.V.N.S. Srivinas, Planta Med., 1996, 62.
  64. B. Das, S.P. Rao, K.V.N.S. Srivinas dan R. Das, Phytochemistry, 1996, 41, 985.
  65. C. Auvun-Guette, C. Baraguey, A. Blond, J. L. Pousset dan B. Bodo, J. Nat. Prod., 1997, 60, 1155.
  66. S.M. Kupchan, C.W. Sigel, M.J. Matz and R.F. Bryan, J. Am. Chem. Soc., 1970, 92(14), 4476.
  67. M. Pertino, G. Schmeda-Hirschmann, L.S. Santos, J.A. Rodríguez dan C. Theoduloz, Z. Naturforsch, 2007, 62b, 275-279.
  68. G. Schmeda-Hirschmann, J. Ethnopharmacol., 1993, 39, 105-111.
  69. J. Jakupovic, M. Grenz dan G. Schmeda-Hirschmann, Phytochemistry, 1988, 27(9), 2997-2998.
  70. G. Schmeda-Hirschmann, F. Tsichritzis, dan J. Jakupovic, Phytochemistry, 1992, 31, 1731-1735.
  71. W. Mongkolvisut, S. Sutthivaiyakit, H. Leutbecher, S. Mika, I. Klaiber, W. Möller, H. Rösner, U. Beifuss dan J. Conrad, J. Nat. Prod., 2006, 69(10), 1435-1441.
  72. S. Sutthivaiyakit, W. Mongkolvisut, P. Ponsitipiboon, S. Prabpai, P. Kongsaeree, S. Ruchirawat dan C. Mahidol, Tetrahedron Letters, 2003, 44, 3637-3640.
  73. A.J.J. Van den Berg, S.F.A.J. Horsten, J.J.K. Bosch, C.J. Beukelman, B.H. Kroes dan R.P. Labadie, Phytochemistry, 1995, 40(2), 597-598.
  74. S. Kosasi, W.G. Van der Sluis dan R.P. Labadie, Phytochemistry, 1989, 28, 2439-2441.
  75. S. Kosasi, W.G. Van der Sluis, R. Boelens, L.A. ‘t Hart dan R.P. Labadie, FEBS Letters, 1989, 256, 91.
  76. R.P. Labadie, in Bioactive Natural Product, ed. S.M. Colegate and R.J. Molyneux, CRC Press, Boca Raton, Ann Arbor, London, Tokyo, 1993.
  77. J.A.O. Ojewole dan O.O. Odebiyi, Planta Med., 1980, 38, 332.
  78. X.Z. Dai dan R.J. Bache, J. Cardiovasc. Pharmaeol., 1985, 7,841.
  79. W.J. Wang, J. Neurol. Psychiat., 1984, 17, 121.
  80. O.O. Aiyelaagbe dan J.B. Gloer, Rec. Nat. Prod., 2008, 2(4), 100-106.
  81. A.J.J. Van den Berg, S.F.A.J. Horsten, J.J.K. Bosch, C.J. Beukelman, B.H. Kroes, B.R. Leeflang dan R.P. Labadie, Phytochemistry, 1996, 42(1), 129-133.
  82. R. Dahiya, J. Iran. Chem. Soc., 2008, 5(3), 445-452.
  83. C.K.A. Leal dan M.F. Agra, Acta Farm. Bonaerense, 2005, 24(1), 5-13.
  84. A.J. Prabakaran dan M. Sujatha, Genetic Resources and Crop Evolution, 1999, 46, 213-218.
  85. E.S. Orhue, M. Idu, J.E. Ataman dan L.E. Ebite, Asian J. Biol. Sci., 2008.
  86. J.K. Mensah, R.I. Okoli, J.O. Ohaju-Obodo dan K. Eifediyi, Afr. J. Biotech., 2008, 7(14), 2304-2309.
  87. S.O. Ehimwenma dan A.U. Osagie, Plant Arch., 2007, 7, 509-516.
  88. A. Pott dan V.J. Pott, Plantas do Pantanal, EMBRAPA, Corumbá, Brasil, 1994.
  89. R.L. Brum, N.K. Honda, S.M. Mazarin, S.C. Hess, A.J. Cavalheiro dan F.D. Monache, Phytochemistry, 1998, 48(7), 1225-1227.

13 thoughts on “SENYAWA METABOLIT SEKUNDER DARI SPESIES JATROPHA

  1. bisa minta referensi yg lain tntg J. curcas?? saya butuh bwt bahan referensi penelitian bid hama dan penyakit tumbuhan
    terima kasih

  2. thanks ya Carla..sangat bermanfaat, saya lagi cari literatur biji jarak sebagai moluskisida. boleh minta literatur lagi tentang Jatropha gossypifolia? terutama tentang kandungan senyawa aktifnya??
    ni emailku : anisnurw21@gmail.com
    thanx
    best regards,
    anis nw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s